Polda Sultra Lidik Kasus Mafia Tanah Puluhan Hektare di Mokoau

Radiman Mattang Cs Diduga Kuat Terlibat

545
Tim inafis Polda Sultra tengah melakukan identifikasi lahan warga yang diduga kuat diserobot di Kelurahan Mokoau, Kendari, (21/4).

 

KENDARI, beritaklik.co – Aksi mafia tanah melibatkan sejumlah oknum terus “menggurita” di Kota Kendari, terbaru Kepolisian Daerah (Polda) Sultra mulai melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan mafia tanah di Kelurahan Mokoau, Kambu, Kota Kendari, yang dilaporkan masyarakat setempat.

Tak tanggung-tangggung Polda Sultra menurunkan Tim Inafis di lapangan untuk melakukan investigasi terkait kasus tersebut. Pasalnya, tanah sejumlah warga yang diduga kuat diserobot dan caplok oleh Radiman Mattang Cs luasannya cukup fantastis, yakni 47 hektare.

Salah seorang warga Mokoau yang ikut dicaplok lahannya, Sombo Sardin mengatakan, tanah miliknya sudah dikuasai sejak 30 tahun lamanya. Tiba-tiba, Radiman Cs berbekal Putusan Pengadilan langsung datang melakukan penggusuran, akibatnya tanamannya dan tanaman warga ikut digusur.

Proses identifikasi lahan, yang disaksikan warga.

 

Sementara tegasnya, jika ditelisik Putusan Pengadilan yang dipegang Radiman Cs, sangat sarat dengan aksi-aksi pemalsuan dokumen.

Buktinya, menurut Sombo, jika melihat Surat Keterangan Tanah (SKT) No: 43/III/DA/1972 yang dijadikan dasar Radiman Cs menggugat kepemilikan sejumah tanah warga di Mokoau, sarat dengan rekayasa.

Seperti sebutnya, SKT tahun 1972 itu sudah tertulis nama wilayah tanah berada di Kecamatan Poasia. Sementara, keberadaan Kecamatan Poasia sendiri baru terbentuk tahun 1978  berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 1978 tentang perubahan status Kendari menjadi Kota Administratif meliputi tiga wilayah kecamatan. Yakni Kecamatan Kendari, Mandonga, dan Poasia.

“Jadi tiga Kecamatan ini baru terbentuk di tahun 1978, sementara sebelum tahun 78 belum terbentuk Kecamatan Poasia. Jadi dari mana SKT sudah bertuliskan Kecamatan Poasia tahun 1972, sementara kecamatan itu belum ada,” ungkap Sombo, Kamis (22/4/2022).

Begitu juga dengan ejaan penulisan SKT tersebut yang dibuat pada medio Maret 1972, bahasanya sudah memakai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), sementara EYD sendiri baru berlaku pada 17 Agustus 1972, sedangka SKT tersebut dikeluarkan pada bulan Maret 1972. “Inilah bukti-bukti dimana SKT yang dibuat sarat dengan dugaan pemalsuan dokumen,” tegasnya.

Parahnya lagi, kata Sombo, salah satu rekan Radiman Cs yang turut serta mencaplok tanah warga itu bernama Karmudin, dimana Karmudin sudah mulai mengolah tanah itu sejak tahun 1972, anehnya justeru Karmudin sendiri baru lahir tahun 1975. “Bagaimana seseorang mengaku sudah mengolah lahan tahun 1972, sementara dia sendiri lahir tahun 1975,” terangnya.

Dalih lain yang dijadikan alasan Radiman Cs sebagai penggugat tanah milik sejumlah warga Mokoau, yakni dengan mengaku adanya rens atau kandang sapi yang luasannya 25 hektare di lokasi yang dicaplok. Akan tetapi hal tersebut, sudah jauh-jauh hari ditentang anggota DPRD, yang menyatakan hal tersebut tidak benar adanya lokasi rens atau kandang sapi.

“Awalnya 25 hektare dengan dalih kandang sapi atau rens milik meraka. Setelah itu mereka kembangkan jadi 40 hektare, terakhir jadi 47 hektare,” paparnya.

Atas kejadian tersebut, Sombo beserta istrinya sudah melaporkan Radiman Cs ke Polda Sultra.

“Kami jelas mencari keadilan. Saya sudah melapor ke Polda, semua bukti-bukti sudah saya pegang, dan saya menentang Radiman Cs untuk adu data,” ujar Sambo.

Kepolisian sendiri gencar membasmi mafia tanah. Kejaksaan Agung juga sudah memerintahkan seluruh jajarannya membentuk tim khusus untuk memberantas mafia tanah, sebab keberadaan mafia tanah sudah sangat meresahkan masyarakat serta memicu konflik sosial.

Karena itu, Kejagung sudah memerintahkan jajarannya agar jaksa tidak hanya melakukan penindakan, tapi juga mampu mengidentifikasi penyebab maraknya praktik mafia tanah

“Jaksa harus mampu memberikan solusi perbaikan sistem agar tidak ada celah bagi para mafia untuk mengganggu tatanan yang ada,”papar Burhanuddin beberapa waktu lalu.

Sementara itu, hingga berita ini dimuat, belum ada konfirmasi dari pihak Radiman Cs yang dilaporkan warga dalam kasus tersebut. (BKC/AGS)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar