90 Persen Temuan Upal Berasal dari Perbankan

54
ilustrasi uang rupiah.

 

KENDARI, beritaklik.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengungkap 90 persen temuan uang palsu (Upal) berasal dari perbankan. Tahun 2022, Januari hingga Mei, BI menemukan 232 lembar uang palsu beredar du Sultra.

 

Temuan BI meningkat dari tahun 2021 pada waktu yang sama hanya sebanyak 211 lembar uang palsu. Rata-rata pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000.

 

“Jadi, temuan uang palsu dari awal tahun sampai sekarang, 90 persen berasal dari perbankan. Olehnya itu, kami bekerja secara masif dan profesional, dalam menilai dan mengevaluasi setiap hal-hal yang dilakukan, untuk mencegah penyebaran uang palsu ini,” ujarnya di Kendari, Senin (6/6).

 

Dijelaskan, temuan uang palsu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Terbukti, di tahun 2019 temuan uang palsu hanya 138, tahun 2020 mencapai 104 lembar, tahun 2021 sebanyak 211 lembar, dan di tahun ini sudah mencapai 232 lembar.

 

“Jadi, temuan uang palsu tersebut langsung dimusnahkan oleh pihak kepolisian, setelah dilakukan uji laboratorium oleh BI. Kita periksa dulu secara detail mengenai kepalsuan uang tersebut, setelah itu baru kami buat laporan kepada pihak berwajib untuk melakukan tindak lanjut, apakah akan dilakukan penyelidikan dan lain sebagainya. Jika sudah tidak ada tindakan dan lainnya, maka kami bersama dengan pihak kepolisian akan memusnahkan uang palsu tersebut,” ucapnya.

 

Pihaknya melakukan edukasi bahwa peredaran uang palsu dapat ditekan jika masyarakat terus menggunakan transaksi secara digital, salah satunya dengan menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran non tunai.

 

Aryo menuturkan, upaya menekan peredaran uang palsu dengan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap cara mengetahui ciri-ciri keaslian uang rupiah melalui metode 3D yaitu dilihat, diraba dan diterawang.

 

“Kemudian untuk menekan peredaran uang palsu dan uang tidak layak edar, BI Sultra rutin melakukan sosialisasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah pada berbagai ajang internal maupun kegiatan kolaborasi dengan eksternal secara gencar, konsisten dan berkala,” tutupnya.

 

Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari, Sahabuddin angkat bicara terkait upal yang masih marak beredar di Sultra. Politisi Partai Golkar ini mengimbau warga untuk mewaspadai peredaran uang palsu yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Menurutnya, peredaran uang palsu ini harus disikapi dengan serius oleh Bank Indonesia.

 

“Harapan kita jangan sampai ada yang koordinir atau memanfaatkan momen-momen seperti ini,” ujar Sahanuddin.

 

Dirinya pun mengapresiasi, langkah Bank Indonesia Sultra yang telah membangun laboratorium khusus untuk mendeteksi ciri-ciri keaslian uang rupiah. Apakah uang tersebut palsu ataukah asli.

 

“Alhamdulillah dari pihak BI saya melihat sudah membuat laboratorium terkait untut masalah uang palsu ini. Itu kita support, bagaimana pihak BI untuk menyikapi terkait peradaran uang palsu,” terang Sahabuddin. (r5-rb/A/EFN)

 

Baca Juga !
Tinggalkan komentar